NG Traveler & Fotokita.net: Hunting Foto dan Berbagi Kiat di Surabaya

DSC5493-copy

Entri oleh Purwo Subagiyo / April 7th, 2010

Oleh Ukirsari Manggalani

foto bersama peserta hunting / purwo

Meriahnya pasar dadakan di antara bangunan berlanggam kolonial serta monumen Tugu Pahlawan merupakan pemandangan menarik akhir pekan. Momentum inilah yang diabadikan para peserta workshop Street Fotografi National Geographic Traveler pada Ahad lalu (4/4) di Surabaya. Sekitar 30 partisipan terjun ke lokasi, berbaur dalam denyut nadi perekonomian lokal, seraya menilik saat-saat tepat untuk membidikkan lensa. Myke Jeanneta, peserta yang hadir bersama sang suami, Agus Wahyudi mengungkap, “Kawasan Tugu Pahlawan sampai Jembatan Merah merupakan salah satu titik sasaran penting bagi penggemar fotografi arsitektural. Meski harus diakui, banyak di antara bangunan-bangunan ini berada dalam kondisi mengenaskan, tidak terawat.”

Senada penuturan Purnomo. Pria paruh baya asal Jakarta, yang tengah melakukan kunjungan dinas ke Surabaya.  Pesona mengabadikan sudut kota dalam kebersamaan itulah yang mendorongnya untuk bergabung dengan workshop fotografi National Geographic Traveler. “Meski sesudah hunting saya harus buru-buru ke bandara, mengejar pesawat kembali ke Jakarta siang ini juga,” tukasnya.

suasana hunting / purwo

Cuaca panas ibukota provinsi Jawa Timur seolah tak terasa, ketika rombongan –yang dibagi dalam tiga kelompok— bergerak dari titik awal perjalanan di Kantor Pos Pusat, Jalan Kebon Rojo.  Ketiga kelompok menempuh rute berbeda, untuk memudahkan penjelajahan serta merunut unsur efisiensi waktu. Lintasan total ketiga kelompok mencakup: kawasan Kebon Rojo dan sekitarnya (Kantor Pos Besar, gedung Bank Mandiri sampai gedung pemerintahan dengan jam kuno, Tugu Pahlawan dan Gereja Santa Perawan Maria ‘Kelsapa’), kawasan Jembatan Merah (gedung-gedung perbankan sampai bangunan tak terurus serta bekas kantor berangka tahun 1880 hingga si jembatan bersejarah) serta area Kembang Jepun (gerbang Kya Kya, Jalan Slompretan, gang Bong sampai klenteng di Jalan Coklat).

potret / foto: purwo

Meski mayoritas peserta berasal dari Kota Pahlawan, jangan dikira penjelajahan menjadi kurang greget. Justru sebaliknya. Agus Wahyudi, merasa nyaman di keramaian, karena berjalan-jalan dengan banyak teman. “Meski demikian, pengawasan terhadap kamera dan ransel juga menjadi tanggungjawab masing-masing,” tandasnya.

Lain lagi pengalaman Azdi Pamungkas, peraih juara 1 Street Photography Workshop. Ia sempat menghilang sejenak, hingga salah satu pembicara, Reynold Sumayku mengontak panitia setempat. “Saya menangkap objek menarik dan ‘lupa diri’. Jalan terus mengikuti objek sampai tersadar; teman-teman kok sudah tidak ada lagi,” kata Azdi jujur.  “Mengingat saya mudah bingung, akhirnya saya putuskan ke titik Jembatan Merah langsung. Harapannya, bisa bertemu kalian di sana.”

potret 2 / purwo

Toh usaha ‘menghilang’ itu tidak sia-sia. Objeknya yang sarat nuansa humanis; balita dengan kepala diperban tertidur dalam dekapan orang tua seraya menggenggam botol susu meraih penghargaan tertinggi.

foto bersama acara workshop / purwo

Sehari sebelumnya, dilangsungkan acara berbagi atau sharing di Convention Hall A, Gramedia Expo, Surabaya. Ada dua makalah dibagikan; menjadi pejalan independen oleh editor teks National Geographic Traveler, Manggalani R Ukirsari serta memotret saat traveling oleh editor foto National Geographic, Reynold Sumayku.

suasana workshop / aftonun

Pengalaman Ukirsari menjadi solo backpacker sejak 15 tahun lalu dituangkan dalam bahasan ringan serta humoris. Salah satu hal paling ia sukai sebagai pejalan independen adalah kebebasan dalam menentukan tujuan, menyusun anggaran sampai interaksi lebih dekat dengan masyarakat lokal.  Ayos Purwoaji tercatat sebagai peserta yang penasaran untuk menanyainya, sejak hari pertama workshop, saat hunting foto bersama, hingga detik-detik menjelang pengumuman pemenang lomba foto Street Photography.  Sementara Reynold Sumayku mengungkap, kedekatan fotografer dengan objek, akan melahirkan potret yang ‘berbicara’. “Berbaurlah dengan warga setempat, termasuk misalnya mengobrol di warung kopi, agar semangat sebuah kota bisa dirasakan lebih dalam,” ujarnya berbagi kiat.

suasana penjurian dan prsentasi foto / purwo

Pengalaman dua hari bersama para anggota forum Foto Kita serta pemerhati produk National Geographic dan National Geographic Traveler itu meninggalkan kesan mendalam bagi kedua pembicara serta team yang bertugas. Terima kasih Surabaya dan selamat kepada para pemenang lomba; Azdi Pamungkas (Juara 1), Anugrah Syahryan Nuzula (Juara 2) dan Giri Prasetyo Dwinugroho (Juara 3).

Bagi peminat di kota-kota lain yang menginginkan acara seminar National Geographic Traveler serupa digelar, silakan kontak event@nationalgeographic.co.id.
dipublikasikan di: http://fotokita.net/fk/blog/2010/04/ng-traveler-fotokita-net-hunting-foto-dan-berbagi-kiat-di-surabaya/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *