Menjelajah Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) 2011

Pada tanggal 15 Mei 2011 kemarin, saya berkesempatan datang ke acara Jakarta Fashion & Food Festival 2011 yang diadakan di kawasan sumarecon Kelapa Gading. Acara tahun ini merupakan tepat sewindu pelaksanaan acara yang sering disebut dengan istilah JFFF ini.

Saya datang bersama dengan istri tercinta sebagai perayaan hari ultah kami berdua. Yuni istri saya ultah tanggal 14 sedangkan saya tgl 15. Kebetulan lokasi kelapa gading yang memang dekat dengan rumah kami menjadi pilihan untuk merayakan hari bahagia ini.

Datang sebagai pilihan kedua karena niat awalnya memang ingin nonton film di 21 membuat kami tidak mangemiliki persiapan khusus dalam mengunjungi pameran ini. Agak berbeda mungkin bagi teman2 yang memang sudah biasa dengan rutin menghadiri acara ini.

Kampoeng Tempoe Doloe

Suasana JFFF 2011

Siang hari itu memang terlihat agak berbeda karena panasnya yang menyengat dengan kuat. Dari lantai 3 biskop 21, yuni meminta saya untuk turun melihat kebawah dan mencari minuman sebagai makanan penebus rasa haus saat itu.

Saya yang kebetulan tidak tidak terlalu haus agak bermalas-malasan mengiyakan tawaran ini. Namun lima menit kemudian kami sudah berada dibawah lantai dasar di lapiaza tempat berlangsungnya JFFF 2011 ini.

Festival JFFF 2011 tahun ini mengangkat tema inkulturasi, seperti saya kutip dari website resminya:

Tema yang diangkat kali ini adalah Inculturation, yang melambangkan upaya dalam menumbuhkan kecintaan akan produk dan warisan seni budaya Indonesia untuk mengembangkannya menjadi hasil karya bernuansa modern tanpa meninggalkan keunikan identitas budayanya. JFFF merupakan sebuah perayaan yang memadukan mode dan kuliner dengan misi mengangkat  reputasi Jakarta sebagai pusat mode dan wisata belanja Asia, sekaligus memajukan industri boga dan kuliner tanah air. Melalui JFFF 2011, diharapkan masyarakat dapat terus melestarikan budaya Indonesia ke generasi penerus bangsa.

Rangkaian acara JFFF 2011 yang saya datangi kali ini memang hanya khusus di kegiatan “food”nya saja. Tidak datang ke bagian fashion yang memang cukup menarik juga, antara lain Gading nite carnaval dan juga Fashion Extravaganza. Untuk bagian food, panitia membawa tema Tempo Doeloe:

Tak lengkap JFFF tanpa hadirnya, Kampoeng Tempo Doeloe (KTD). Tahun ini  mengambil tema Aneka Makanan Olahan Kelapa, KTD menghadirkan makanan-makanan khas yang menggunakan kelapa sebagai salah satu bahan utamanya. Sebut saja Gudeg Pejompongan, Empal Gentong Putra Mang Darma, Ketupat Sayur Rusmini, Nasi Padang Ulanago, Soto Betawi Babeh, Soto Udang Medan Akwang, Tongseng Pak Budi Khas Solo, Kue Putu Bambu Medan.  Selain itu hadir pula aneka ragam cemilan khas tradisional seperti Otak-otak Petojo An, Rujak Juhi Petojo, Kerak Telor, Tahu Gejrot, Tauge Goreng, Kue Cubit, Selendang Mayang, Es goyang dan masih banyak lainnya.

Menghadirkan sekitar 50 pedagang kuliner pilihan dari beberapa daerah terkenal di Nusantara yang bergabung di KTD. Transaksi masih menggunakan kupon ala uang jaman dulu seperti tahun-tahun sebelumnya. Hiburan khas kampung yang menayangkan layar tancep, topeng monyet dan mainan odong-odong untuk anak-anak hadir pula memeriahkan suasana KTD. Atmosfir yang dapat dijumpai di KTD tahun ini bertema Kampung Nelayan dengan nuansa pesisir.

Untuk makanan pertama yang kami beli sesuai pilihan Yuni adalah yang segar-segar. Pandangan matanya tertuju pada kedai yang belum buka dengan sepintas menjual es buah, Es Pluit Acen.

ketika kami tiba, si empunya kedai meminta kami untuk sejenak mempersilakan untuk menunggu karena memang semua menunya belum siap. Kedai kecil ini mendadak dikerubuti banyak pembeli dan saya terpaksa mengantri untuk mendapatkan semangkuk es dengan varian rasa yang berkisar antara 18-22 ribu rupiah ini.

Es Buah Sirsak

Untuk kesan pertama nyicip ini es, bisa saya kasih jempol 8. Cukup seger dan manis rasanya dengan paduan beragam olahan buah membuat es ini layak mendapat rekomendasi kalau kebetulan mampir dan membeli. Banyaknya varian rasa membuat kita seakan ingin menikmatinya semua.

Pilihan rasa es buah

Kebetulan ketika menikmati es ini kami harus buru2 segera masuk ke 21 untuk menikmati film source code yang akan tayang jam 1.45. Selepas nonton kami segera datang lagi ke JFFF ini namun dengan suasana yang berbeda. Pengunjung acara semakin banyak dan agak menyulitkan kami untuk berburu makanan.

Martabak Medan

Dari banyaknya gerai yang menjual makanan, hanya ada satu kedai yang terlihat benar-benar banyak pengantrinya, martabak Medan. Ya, kedai ini menjadi pilihan istri saya untuk menjadi menu pengganjal perut berikutnya sehabis menonton film.

mengolah martabak

 

Untuk martabak yang kali ini harus ditebus dengan harga 17rb rupiah saya memberikan nilai 5/10. Agak jahat memang, tapi kenya taannya memang demikian. Tak ada rasa yang unik dan mampu membuat saya berkata WOW 🙂

Oia yang terlupa dari acara ini, untuk transaksi kita diharuskan menukar uang dengan voucher yang telah tersedia di gerai penukaran uang. Bentuknya seperti ini:

voucher uang

So, overall, pelaksanaan JFFF 2011 menurut saya berjalan dengan lumayan baik. Panitia terlihat sigap mengatur jalannya kegiatan yang sayangnya tempatnya kecil. Namun tidak terdapat sampah yag berserakan seperti kita temui di festival jajanan Bango atau tempat jajanan lain.

Buat teman2 yg kebetulan suka dengan kuliner bisa mampir ke sini karena memang acara masih berlangsung hingga tanggal 29 mei mendatang. Oia sebagai info aja, kayanya kalau weekend akan sangat padat sekali kalau mau datang ke tempat ini. So sebagai panduan lengkap bisa berkunjung ke website resminya: JFFF 2011

Salam
@purwoshop & @beautybees

NB: Info dan Foto poster diambil dari web JFFF 2011

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *