Julian Sihombing dan Tim Laman

Bang Julian dengan baju kotak-kotaknya mendengarkan presentasi TIM

Memori saya kembali ke awal ketika saya bekerja di Kompas Gramedia. Ketika itu tahun 2008 tanggal 27 bulan oktober, belum lama saya bergabung dengan National Geographic Indonesia. Mas Tantyo Bangun, saat itu masih bertugas sebagai editor in chief untuk majalah tersebut. Beliau meminta saya mempersiapkan sebuah diskusi foto “mendadak” dengan narasumber ternama dari National Geographic. Tim Laman!

Ini kesempatan yang langka dan sangat jarang terulang. Apalagi ditengah padatnya jadwal sang fotografer, acara ini benar-benar terasa istimewa. “Undangan sudah gw sebar di milis fotografer Kompas dan juga gramedia majalah, untuk kontak person acara ini gw sudah tulis nama lo” jelas mas Tantyo kepada saya ketika memberikan instruksi ini.

Tak lama berselang beberapa email masuk menanyakan pendaftaran acara ini dan berminat untuk ikut menghadiri. Untuk info saja, acara ini tidak untuk umum. Hanya terbatas untuk fotografer di lingkungan Kompas Gramedia saja. Karena banyaknya fotografer yang bekerja di Kompas palmerah, maka mas Tantyo menetapkan Kompas palmerah sebagai tuan rumah. Beliau memberikan kontak nama fotografer senior Kompas yang akan membantu saya menyiapkan acara ini. Orang tersebut adalah Julian Sihombing.

Buat saya, nama besar fotografer senior Kompas hanya saya bisa ketahui dengan melihat karyanya di harian Kompas dengan kredit nama di sudut kanan bawah. Tapi melalui acara ini saya bisa berinteraksi langsung dengan telpon dan bahkan bertemu. Inilah perjumpaan saya pertama kali dengan bang Julian Sihombing.

Singkat cerita, saya berkomunikasi langsung dengan bang Julian. Ditengah kesibukan deadline di Kompas, beliau membantu saya menyiapkan ruangan dengan segala kelengkapannya. Untuk kebutuhan ini, beliau menyiapkannya secara langsung sendiri dan tidak merepotkan banyak orang. Ketika tiba di Kompas pun, saya langsung dibantu beliau. Perkenalan singkat sore itu terasa cukup berkesan. Namun sayang kami harus mempersiapkan acara yang akan segera dimulai malam itu.

Tim Laman bersama Tantyo Bangun

Tim laman yang sudah tiba duluan saat itu langsung ditemani oleh mas Tantyo sembari ngopi dan ngobrol soal fotografi Indonesia. Sedangkan saya bersama bang Julian masih repot menyiapkan ruangan karena ternyata yang hadir membludak 🙂 Bangku yang tersedia cukup terbatas, bahkan ada peserta dari luar grup Kompas yang ikutan hadir. Sebut saja fotografer senior wildlife di Indonesia yaitu bang Riza Marlon menyempatkan ikut diskusi tersebut. Hadir juga rekan saya Mas Bernard dan Ruli Amrulah dari moderator forum NGI yang juga memiliki minat yang sama dengan fotografi wildlife.

Ketika acara berlangsung, bang Julian mewakili tuan rumah membuka acara dengan memperkenalkan beberapa audience yang juga fotografer Kompas. beberapa yang saya kenal ada mba lasti kurnia dan juga fotografer idola saya, mas Agus Susanto :). Diskusi ini sendiri dimoderatori oleh mas Tantyo. Sifat baik bang Julian terlihat di momen ini. Untuk menyajikan makanan dan minuman untuk Tim Laman, bang Julian yang turun tangan langsung. Tidak ada office boy yg secara khusus beliau persiapkan saat itu. Bahkan orderan pizza saat itu yang menjadi menu makan malam diskusi sepertinya disiapkan dari kantong pribadi bang Julian.

Mas Tantyo membuka diskusi, tampak kanan Bang Jul menyiapkan makanan utk tim laman

Khusus untuk acara singkat ini, mas Tantyo meminta saya menyiapkan dengan sempurna. Terutama untuk proyektor yang disiapkan untuk presentasi Tim Laman. Karena harus memenuhi standar Natgeo, untuk keperluan acara itu mas Tantyo meminta saya menyiapkan proyektor dengan spesifikasi 5000 ansi. Saat itu di kantor tidak ada yang memenuhi spesifikasi tersebut. Terpaksa kami menyewa dengan harga yang lumayan mahal, 2 juta rupiah.

Namun harga tersebut terbayar dengan presentasi Tim yang menghadirkan foto-foto Indonesia timurnya. Seingat saya, saat itu Tim sedang mendapat penugasan memotret burung namdur. Dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata, Tim menyajikan fotonya dari Kalimantan, Sulawesi hingga Raja Ampat.

Penyamaran Tim Laman

Salah satu karya foto Tim Laman

 

Peralatan Ekspedisi Papua

 

Raja Ampat/Tim Laman

Satu hal yang bisa disimpulkan dari diskusi Tim Laman ini adalah bahwa dalam kondisi sulit apapun terutama di alam liar kita harus bisa mendapatkan gambar terbaik. Menunggu binatang yang akan difoto dalam waktu yang lama menjadi syarat wajib selain tentunya pintar membaca lingkungan terkait dengan kebiasaan hewan tersebut dilapangan yang memaksa kita beradaptasi dengan baik.

Diskusi singkat malam itu akhirnya berakhir. Peserta cukup puas berbagi ilmu dengan fotografer ternama Tim Laman secara gratis. Namun sesungguhnya buat saya pribadi, selain Tim Laman, saya mendapatkan “ilmu” juga yang teramat mahal dari sosok Julian Sihombing. Tanggal 27 besok berarti genap 4 tahun saya mengenal sosok bang Jul secara dekat. Pertemuan singkat yang sangat bermakna.Tak hanya sekedar ilmu foto saja, tapi juga kehidupan.

Dan ternyata, di tahun berikutnya, saya mendapatkan “ilmu” lagi setiap tahunnya. Tahun 2009, dan 2010 dengan dua event yang berbeda. Untuk kesempatan pertemuan ini saya sangat bersyukur bisa mengenal pribadi beliau secara langsung. Menjadi orang yang dicintai banyak orang itu ternyata sangat sulit. Tapi cukup mudah dilakukan dengan langkah kecil, berbuatlah baik selalu dengan tulus kepada siapapun tanpa mengenal status, dan itu dilakukan dengan baik dan sempurna oleh Julian Sihombing.

Salam

Purwo Subagiyo
@purwoshop

NB: Tulisan ini masih bersambung dalam rangka mengenang kepergian Bang Julian yang menderita kanker getah bening tgl 13 Oktober 2012.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

3 responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *