Foto, fotografer, dan Etika dalam Bencana Alam

Kompas Kelud 2014

Pagi ini, ada yang berbeda dalam headline foto koran KOMPAS 18 Februari 2o14. Foto di atas menurut saya sangat kuat menyampaikan pesan dengan baik. Tersirat pesan dengan jelas namun berlawanan dengan medium penyampaian pesannya.

Dengan menggunakan foto, pesan tersebut bisa sampai ke saya yang tidak mengetahui kejadiannya secara langsung. Menjadi agak sedikit lucu karena memang papan pengumuman tersebut menyatakan tidak butuh foto namun butuh bantuan. Disinilah yang membuat foto ini menjadi kuat.

Ketika saya share via instagram dan facebook, respon dari teman-teman pun beragam. Ada yang berkomentar dan share juga. Persepsinya bisa jadi sama dalam menyikapi pesan dalam foto tersebut. Bahwa yang menulis pesan tersebut mungkin merasa terganggu dengan aktivitas beberapa “fotografer” yang menggunakan kamera untuk mengambil gambar/foto di daerah tempat tinggalnya.

Mereka dalam pesan tersebut menyatakan lebih membutuhkan bantuan daripada di foto. Nah bisa sampai keluar papan tersebut saya yakin sekali karena levelnya sudah sangat menggangu kehidupan mereka yang kebetulan lagi susah dan benar-benar butuh bantuan. Inilah mengapa peran fotografi menjadi penting dalam memberikan “bantuan” dalam bentuk lain yang mungkin berbeda di mata para korban.

Kompas Kelud 2014

Dengan memotret dan menyebarkan foto melalui medianya masih-masing (dalam hal ini media cetak dan online) maka kondisi nyata para korban bisa tersiar dengan luas. Orang-orang yang membaca beritanya menjadi tahu dan tergerak memberikan bantuan sesuai dengan caranya masing-masing.

Budaya dan Etika Fotografer

Catatan penting yang bisa saya lihat dari foto ini adalah terkait dengan budaya dan etika “fotografer” dalam mendokumentasikan situasi yang ada dihadapannya. Dalam hal memotret bencana alam, kondisinya menjadi sangat sensitif dan tidak mudah seperti dalam kondisi normal.

Karena itu kita sebagai fotografer, bisa berperan sebagai individu maupun sebagai jurnalis foto yang akan mewartakan suatu kondisi perlu sekali memahami pentingnya budaya dan terutama etika dalam mendokumentasikan sebuah moment. Saya membayangkan kalau selama musibah itu, “fotografer” yang kebetulan waktu itu mendokumentasikan terlebih dahulu memiliki etika dan simpati yang baik maka saya yakin mungkin papan pesan itu tidak akan pernah ada.

Memotret korban dalam situasi musibah bencana alam harus dilakukan dengan penuh etika. Meminta izin merupakan standar yang wajib dilakukan kepada obyek foto apabila meliput di daerah seperti ini. Memperlakukan mereka sebagai subyek dan menunjukan empati kita atas penderitaan mereka sangat penting dan lebih dihargai buat mereka.

Bukan menjadikan mereka laksana obyek wisata dan asyik kesana kemari dengan tidak sopan mendokumentasikan penderitaan mereka. Kalau sampai itu dilakukan, maka ada etika yang dilanggar oleh seorang “fotografer” tersebut dan sangat wajar apabila timbul papan tersebut. Ada aksi ada reaksi. Mungkin saya akan juga menulis papan yang sama jika diperlakukan seperti itu secara kelewatan di atas ambang batas kewajaran.

Motret dulu atau memberikan bantuan dulu?

Apa jawaban yang pas untuk pertanyaan di atas? Mungkin Anda bisa punya persepsi masing-masing. Dalam kondisi tertentu memotret dulu adalah salah satu bentuk memberikan bantuan yang berharga buat banyak orang. Karena dengan fotonya orang lain bisa mengetahui kejadian yang sesungguhnya. Maka itu sangat penting apabila proses pengambilan foto tsb dilakukan penuh etika terutama dalam standar foto jurnalistik.

Sebagai penutup, saya teringat kembali dengan pesan dari bang Poriaman Sitanggang yang mungkin bisa relevan dengan situasi ini.

 “Bagi saya, portrait harus menghormati subjeknya. Di dalam kamera saya, memotret presiden sama terhormatnya dengan memotret korban perang/konflik. Fotografer harus memberikan yang terbaik dan penuh rasa hormat!” Poriaman Sitanggang

 Salam
@purwoshop

NB: Terima kasih banyak atas foto mas Bahana Patria Gupta/KOMPAS dan editor foto KOMPAS yang membuat kita lebih peduli untuk membantu korban bencana melalui foto tersebut.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *