Jalan panjang masa depan fotografi Indonesia

Kongres-fotografi-2014

 

Perjuangan pun dimulai…. Kongres Fotografi Indonesia siap digelar…. semoga dari tempat yang kecil ini bisa muncul sebuah kebersamaan lahir bathin.” Ray Bachtiar Drajat.

Dalam sebuah perjalanan pulang rapat tim formatur Forum Fotografi Indonesia. Saya bersama Kang Ray, Pak Imam, dan Mas Rully Kesuma menyempatkan diri bersama melakukan selfie di ruangan lift kantor parekraf yang kecil. Ini merupakan rapat persiapan kongres fotografi yang telah berlangsung untuk kesekian kalinya.

Rapat rutin mingguan yang biasanya digelar di galeri antara mencoba merumuskan beberapa keputusan penting dimana nantinya semua draft usulan akan dibawa ke forum untuk menghasilkan beberapa rumusan untuk diambil untuk kemajuan fotografi Indonesia.

Beberapa perwakilan fotografer dari setiap provinsi di Indonesia akan diundang ke Jakarta. Dalam komposisi tersebut hadir antara lain perwakilan dari industri, praktisi, komunitas, dan akademisi. Semua melebur menjadi satu untuk menuangkan ide dan gagasan memajukan fotografi di Indonesia.

Untuk informasi sejarah pembentunkan kongres fotografi Indonesia yang dimulai melalui FGD, pembentukan tim formatur, hingga update terkini teman-teman bisa membacanya di notes FB dari kang Ray. Agar lebih memudahkan saya copy juga dan sajikan di blog ini agar lebih lengkap dan bisa mendokumentasikan juga ūüôā

Salam
Purwo Subagiyo
@purwoshop

https://www.facebook.com/notes/ray-bachtiar-dradjat-ii/persiapan-kongres-fotografi-indonesia/721128234618153

PERSIAPAN KONGRES FOTOGRAFI INDONESIA

2013

*****

Fotografi masuk ke Indonesia tahun 1841 saat Dutch Ministry of Colonies menginventarisasi wilayah jajahan Hindia Belanda. Masa itu orang pribumi berprofesi jurufoto tidak banyak. Dari tahun 1850 hingga 1940 tercatat 540 studio foto di 75 kota besar dan kecil, 315 nama Eropa, 186 Cina, 45 Jepang dan hanya 4 nama “lokal” : Kassian Cephas di Yogyakarta, A Mohamad di Batavia, Sarto di Semarang, dan Najoan di Ambon. Yang menarik tahun 1924 lahir Klub Foto Amatir pertama di Bandung, Preanger Amateur Fotograafen (PAF).

Di zaman penjajahan Jepang (1942) pergerakan fotografi Indonesia mengalami kelumpuhan karena Jepang menerapkan pengawasan dan penyensoran di segala  bidang. Namun secara tidak langsung Jepang menciptakan kesempatan transfer teknologi. Jepang melatih orang Indonesia menjadi fotografer untuk bekerja di kantor berita mereka, Domei. Mereka inilah, Mendur bersaudara yang di masa kemerdekaan berperan sangat penting dan kemudian bersama Umbas bersaudara mendirikan IPPHOS (Indonesia Press Photo Service) pada 2 Oktober 1946. Kekuatan visual fotografi sangat disadari oleh para pemimpin Indonesia sehingga para jurnalis foto selalu mendampingi momen-momen penting perjuangan kemerdekaan. Fotografi menjadi alat pemersatu semangat rakyat untuk merdeka.

Di era pasca kemerdekaan, banyak warga Belanda yang kembali ke negaranya. Aset-aset yang semula dimiliki warga Belanda dinasionalisasi, termasuk alat-alat fotografi. PAF akhirnya dipimpin oleh anggota yang berkewarganegaraan Indonesia. Fotografi Indonesia bangkit kembali hingga di tahun 1953 berdiri Gabungan Perhimpunan Seni Foto Indonesia (GAPERFI) dengan ketuanya Mayor R.M. Soelarko, beranggotakan 13 Klub Foto dari seluruh Indonesia. Dalam usia sangat singkat (1953-1957) GAPERFI berhasil menggelar dua kali kongres.

Tahun 1955 di Semarang dan tahun1956 di Bandung. Sementara itu, tahun 1959 Soelarko pernah mencoba ‚Äúmemaksakan‚ÄĚ seni foto menjadi salah satu cabang seni budaya. Namun sepertinya tak ada tanggapan. Apalagi di era 60an situasi politik memburuk dan Pemerintah cenderung mengontrol media termasuk fotografi.

Era 70 dan 80an, perkembangan ekonomi Indonesia meningkat. Fotografi komersial tumbuh pesat. Banyak perusahaan membutuhkan jasa jurufoto. Majalah gaya hidup bermunculan. Tahun 1970, PAF (yang sudah berubah namanya menjadi PERHIMPUNAN AMATIR FOTO ) menjadi satu-satunya klub foto yang terdaftar di induk fotografi tingkat dunia, FIAP, yang mendorong berdirinya   Federasi Perkumpulan Seni Foto Indonesia (FPSI) di tahun 1973.

Di sisi lain, nasib fotografi jurnalistik masih redup. Posisi jurufoto di media massa tidak diuntungkan (tidak adanya credit title atau hak cipta tidak diakui). Konstelasi mulai berubah menjelang Reformasi. Di akhir tahun 90an, jurufoto mulai mendapat kredit di media massa. Reformasi membawa kebebasan pada jurufoto untuk kembali memperlihatkan isu-isu yang mereka anggap penting.

Seperti foto karya Julian Sihombing, yang memperlihatkan seorang mahasiswa terkapar yang memicu pergolakan massa. Di tahun 90an pula Pendidikan formal fotografi mulai berkembang. Berdirinya Jurusan Fotografi di FFTV-IKJ diikuti oleh ISI dan Trisakti. Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) sebagai pendidikan non-formal jurnalistik pun muncul. Komunitas fotografi beraliran eksperimental pun bermunculan seperti Forum Fotografi Bandung dlsb

Perkembangannya kemudian, di era 2000an, teknologi digital menawarkan cara mewujudkan perupaan baru. Kemudahan-kemudahan teknik pembuatan fotografi yang ditawarkan memungkinkan seorang fotografer lebih berkonsentrasi pada aspek gagasan dan perupaan. Teknologi fotografi digital dan internet pun memicu demokratisasi fotografi. Hampir semua orang bisa memotret atau menjadikan dirinya sebagai jurufoto. Komunitas-komunitas fotografi bermunculan. Jenis komunitas juga sangat beragam. Kini di Indonesia diperkirakan terdapat 60 komunitas fotografi yang memiliki sistem keanggotaan dan punya lebih dari 100 anggota. Angka tersebut belum termasuk komunitas yang konsisten melakukan kegiatan, namun tidak memiliki kedua kriteria tersebut. Salah satunya Fotografer.net yang saat ini di diklaim sebagai komunitas fotografi online terbesar se Asia Tenggara.

Sementara itu, pada 21 Desember 2011, berdasarkan Perpres No.92/2011, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif secara resmi terbentuk. Dalam Rencana Strategisnya, fotografi masuk 15 subsektor industri kreatif yang akan dikembangkan. Imbasnya jadi banyak fotografer diundang Kemenparekraf. Termasuk saya yang sempat hadir di awal 2013 dan pada sebuah diskusi mengusulkan perlunya dibentuk sebuah wadah yang tidak menyaingi fotografer, independen, non komersial, dan siap membantu para fotografer. Semacam badan advokasi fotografi yang pembiayaannya bisa diperoleh dari sumber tidak mengikat, utamanya dana sponsor dari lembaga Pemerintah yang memiliki minat mengembangkan seni kreatif terutama fotografi.

Nyatanya usul diterima. Lalu bersama pak Fendi Siregar dan mas Imam Hartoyo, kami mempresentasikan rancangan ADVOKASI FOTOGRAFI pada diskusi Subdit khusus untuk pengembangan fotografi yang berada dibawah Direktorat Pengembangan Senirupa, Kemenparekraf. Dan pertengahan April 2013 merupakan presentasi akhir karena gagasan harus digelar dalam diskusi para pemangku kepentingan bidang fotografi yang diharapkan dapat mewakili pemikiran kelompok bisnis, komersial, non-komersial, komunitas, pengajar serta penggiat fotografi sebelum diangkat dalam sebuah Kongres.

Rabu, 24 April 2013 di Hotel RedTop, Jl. Pecenongan – Jakarta, digelarlah FGD (Focus Group Discussion) PERSIAPAN KONGRES FOTOGRAFI INDONESIA dengan tema “Penyusunan Rumusan Fasilitasi & Advokasi Fotografi Indonesia” untuk memfasilitasi fotografer wilayah Jakarta, Bandung dan sekitarnya. Peserta yang hadir adalah : Ade Darmawan (Jakarta), Adhitya Zein (Bandung), Andrew Linggar (Jakarta), Anton Ismael (Jakarta), Ari Santosa (Jakarta), Atieq S S Listyowati (Jakarta), Bahtiar Dwisusanto (Jakarta), Dedi Istanto (Jakarta), Fendi Siregar (Jakarta), Firman Ichsan (IKJ), Galih Sedayu (Bandung), Gathot Subroto (Jakarta), Harto Solihin Margo (Bandung), Imam Hartoyo (Jakarta), Irma Chantily (Jakarta), Lateev Haq (Jakarta), Priadi Soefjanto (Jakarta), Raiyani Muharramah (Bogor), Ray Bachtiar Dradjat (Jakarta), Refi Mascot (Jakarta), Rully Kesuma (Jakarta), Toga Tampubolon (Jakarta), Yase Defirsa (Jakarta), dan Ve Dhanito (Jakarta).

Dan untuk memfasilitasi fotografer di wilayah Jawa Tengah, Jogja, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Pekan Baru, Aceh, Manado, Makassar dan Papua, FGD dilanjutkan di Hotel Tunjungan, Jl. Basuki Rachmat – Surabaya, pada hari Rabu, 1 Mei 2013. Peserta yang hadir adalah : Andi Sucirta (Bali), Anjas Wijanarko (Solo), Arif Budiman (Bali), Edial Rusli (Jogja), Eny Erawati (Malang), Hartono Roesli Saputra (Surabaya), Husni Oa (Papua), Irwandi (Jogja), Poenk Pradopo (Surabaya), Wimo Ambala Bayang (Jogja), Aqiq Aw (Jogja), Muhammad Sujai (Sidoarjo), Muhammad Akbar (Makassar), Rasyid Ridha (Banjarmasin), Juliansyah Ajie (Aceh), Julian Nail Sitompul (Pekanbaru), Roedy Joen (Surabaya), Decky (Malang), Rismianto (Jember), dan Steven Sumolang (Manado).

Di ke dua kota tersebut, diskusi dilaksanakan setelah pembukaan dan pengarahan dari ibu Watie Moerany, Direktur Pengembangan Senirupa, Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni & Budaya, dilanjutkan diskusi kelompok guna mendapatkan masukan yang lebih mendalam dengan jumlah anggota kelompok yang lebih kecil.

Pada diskusi panel yang dimoderatori mas Imam Hartoyo dan Andrew Linggar, dibeberkan tentang fotografi yang sudah dimasukkan ke dalam ekonomi kreatif karena dianggap mampu menumbuhkan ekonomi. Namun sebagai lembaga baru dan belum banyak mengenal dunia fotografi, Kemenparekraf bermaksud menjaring masukan dari stakeholder untuk mencanangkan program fotografi dan mengembangkannya secara nasional maupun internasional. Untuk itulah para fotografer dikumpulkan dan lebih jauh lagi melalui kongres fotografi. Diharapkan kongres yang direncanakan tahun 2014 akan menghasilkan kesimpulan yang bisa disampaikan kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, dan prakteknya dapat terealisasi dengan baik.

Kesimpulan dan usulan dari diskusi di Jakarta terdapat kesepakatan perkembangan pembentukan dari Lembaga Advokasi Fotografi ke FORUM FOTOGRAFI INDONESIA yang pembentukan agar segera dilaksanakan karena forum ini akan menjadi pengikat berbagai pemangku kepentingan dan sebagai wadah komunikasi fotografer di Indonesia dengan semangat mengayomi, memfasilitasi, dan mengadvokasi kegiatan fotografi di Indonesia. Untuk dapat menjalankan fungsinya, diusulkan agar forum memiliki komisi-komisi atau bidang kerja yaitu :

  • Komite Haki/ Etika yang akan menjalankan fungsinya untuk fasilitasi dan advokasi penyelesaian hukum dan etika
  • Komite Pendidikan dan Pelatihan yang akan membantu melakukan pantuan dan memberi masukan pada upaya pendidikan baik bagi fotografer maupun masyarakat luas
  • Komite Riset Pengembangan yang diharapkan dapat memberikan pemikiran dan usulan tentang pola pengembangan forum dan kegiatannya
  • Komite Infrastruktur yang akan membantu pemikiran dalam pengembangan dan penyiapan infrastruktur yang mendukung aktivitas fotografi
  • Komite Program yang berfungsi membantu pemikiran dan usulan atau rancangan program yang akan dijalankan melalui forum

Kesimpulan diskusi Surabaya pun menyepakati pembentukan FORUM FOTOGRAFI INDONESIA dengan usulan tambahan :

  • Dalam formatur harus ada orang yang sadar teknologi.
  • Anggota Forum Fotografi Indonesia Harus ada wakil dari semua stake holder
  • Personal yang bisa menerima berbagai genre yang ada. Bisa saja dari bukan orang fotografi atau orang luar fotografi, karena kemungkinan bisa lebih objektif sesuai dengan kepentingan bersama
  • Sebaiknya direferensikan olah anggota sebelumnya untuk standar kualitas.
  • Adanya persamaan visi dengan para pelaku fotografi
  • Diambil dari tokoh dari komunitas dan peserta FGD Surabaya agar benang merah tetap terjaga.
  • Forum harus kuat dan mempunyai sistem. Suatu hal baru yang bisa mengadvokasi para pelaku fotografi. Di dalam forum diharapkan ada komisi-komisi :
  1. Komisi Pendidikan
  2. Komisi Etika dan hukum
  3. Komisi Arsip
  4. komisi Humas dan tehnik
  5. Komisi Litbang dan kuratorial

Dari dua pertemuan yang dihadiri oleh wakil yang dipilih dan diperkirakan bisa mewakili suara setiap genre fotografi dari Banda Aceh hingga Jayapura ini (meski ada beberapa undangan yang tidak bisa hadir), akhirnya FGD di Jakarta dan Surabaya berhasil memetakan persoalan di bidang fotografi dan sepakat untuk melahirkan sebuah wadah yang disebut FORUM FOTOGRAFI INDONESIA. Siapa saja yang diikutsertakan dalam forum ini nantinya akan disepakati dulu oleh formatur yang akan dibentuk.

 

foto bersama FGD "Penyusunan Rumusan Fasilitasi & Advokasi Fotografi Indonesia 2013"  Jakarta dan surabayafoto bersama FGD “Penyusunan Rumusan Fasilitasi & Advokasi Fotografi Indonesia 2013” Jakarta dan surabaya

 

2014

*****

Awal April 2014, saya, Mas Imam Hartoyo, Andrew Linggar, Irma Chantily, dan Pak Eddy Susilo serta mas Bambang Wijanarko dari Kemenparekraf kembali melanjutkan kerja yang digagas setahun lalu. Sekitar enam kali pertemuan resmi dan tak resmi diberbagai tempat kami lakukan untuk menyimpulkan dan mempresentasikan kembali apa yang sudah diputuskan FGD PERSIAPAN KONGRES FOTOGRAFI INDONESIA, serta mendiskusikan bagan model forum paling tepat untuk memudahkan kerja tim selanjutnya. Sayang meetingnya selalu bertabrakan dengan kegiatan pak Fendi.

Muncul bagan seperti berikut. Dalam forum, ke-empat pihak (Juru Foto, Edukasi, Pemerintah, Bisnis) berada pada posisi dan kekuatan yang sama.

FORUM FOTOGRAFI INDONESIA  sebagai:

  • Wadah komunikasi antar pemangku kepentingan
  • Wadah menyalurkan aspirasi para pemangku kepentingan
  • Wadah koordinasi para pemangku kepentingan
  • Jalur komunikasi antara masyarakat umum dengan para pemangku kepentingan
  • Forum pengembangan fotografi
  • Forum konsultasi dan rekomendasi hukum

Stakeholder FotografiStakeholder Fotografi

Hal yang penting untuk ditindaklanjuti adalah disegerakannya penyusunan dan penetapan tim FORMATUR penyiapan FORUM FOTOGRAFI INDONESIA dan perangkat kerjanya. Dengan demikian dapat dirancang kegiatan pertemuan-pertemuan dan diskusi untuk menyusun kerangka visi dan misi yang akan dikembangkan dan disahkan dalam KONGRES yang diharapkan dapat dilaksanakan bulan Agustus 2014.

 

Proses menujupembentukan FORUM FOTOGRAFI INDONESIA

Proses menujupembentukan FORUM FOTOGRAFI INDONESIA

Mendadak kami berempat diundang mengikuti FGD Cetak Biru Ekonomi Kreatif Indonesia 2015-2019. Yang menarik pasal Ekonomi Kreatif ini nyatanya berpijak pada Inpres No.6 Tahun 2009 yang ditujukan untuk menguatkan seluruh subsektor ekonomi kreatif dalam menghadapi peta politik baru menjelang berlakunya kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di tahun 2015 mendatang.

Yang menarik Mari Elka Pangestu mengatakan agar terjadi percepatan pengembangan ekonomi kreatif nasional, perlu penguatan koordinasi yang dipayungi sebuah regulasi yang lebih kuat dari Inpres yang telah ada. Oleh karena itu, beliau berharap dalam waktu dekat dapat dihasilkan Perpres pengembangan ekonomi kreatif pada tahun 2014. Dalam Perpres ini, diharapkan LKPP, BSN, BNSP, Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi juga dapat dilibatkan dalam upaya percepatan pengembangan ekonomi kreatif nasional.

Catatan saya : Dari uraian diatas sebenarnya sudah jelas keberadaan fotografi di Indonesia sudah mendarah daging dan tidak bisa dinafikan. Bayangkan jika tidak ada fotografer wedding, fotografer korporat, iklan, budaya, alam liar, seni, media massa nah juga buat pilkada, pilpres, dan lain lain lain lain sebagainya……

Maka jika fotografi dimasukkan ke dalam ekonomi kreatif karena dianggap mampu menumbuhkan ekonomi, itu sepertinya terlalu menafikan fotografi. Karena seluruh insan fotografi di Indonesia sudah lama eksis, bukan masih survive ! Fotografi seharusnya sudah berdiri sendiri….

Jadi, walau terkesan terlambat, karena FGD Cetak Biru Ekonomi Kreatif Indonesia 2015-2019, baru dilaksanakan pada tahun 2014, tapi jelas lebih baik daripada tidak melaksanakannya sama sekali. Maka jika seluruh undangan FGD subdit Fotografi yang hadir sepertinya setuju jika insan fotografi di Indonesia saat ini hanya mau menunggu keberpihakan dan keseriusan Pemerintah dalam menyikapi KEBERADAAN FOTOGRAFI secara utuh. Dalam hal ini hanya khusus di pengembangan ekonomi kreatif nasional dan belum mempermasalahkan keterlibatan fotografi secara menyeluruh di luar Kemenparekraf.

Belum habis masa keheranan saya atas keberadaan fotografi, tiba-tiba kami menerima berita bahwa seluruh kementrian anggarannya dipotong dan ini berimbas ke kongres yang sudah dirancang lebih dari satu tahun terpaksa tidak jadi dilaksanakan.

Jelas kami menolak.

Lalu kami bertiga (saya, mas Imam Hartoyo, Andrew Linggar) ditemani pak Eddy Susilo mencegat ibu Watie Moerany sebelum bubaran FGD III Cetak Biru Ekonomi Kreatif Indonesia 2015-2019, pada hari Rabu 11 Juni 2014. Alasan kami jelas. Kongres membutuhkan biaya, tapi biaya tidak harus memutuskan cita-cita. Kongres Fotografi harus tetap diadakan dan formatur harus cepat dipilih. Dan syukurlah ibu Watie merestui. Dalam hal ini kami memuji tindakan berani fihak Parekraf ini.

1.  FGD :

Masukan dan opini

2.  TIM FORMATUR :

Pembentukan tim formatur forum fotografi terdiri atas wakil dari 4 pemangku kepentingan

3.  PERUMUSAN FORUM :

Struktur tujuan dan sasaran batasan kegiatan format dan tata tertib (AD/ART)

4.  KONGRES FOTOGRAFI :

Pengesahan forum fotografi pengesahan program kerja

5.  FORUM FOTOGRAFI :

Terbentuknya forum fotografi indonesia

Selasa 17 juni 19 juni, kami mencoba mematangkan rencana di GFJA. Saat itu hadir Masbro Oscar Matuloh, mas Imam Hartoyo, Andrew Linggar, Irma Chantily, pak Eddy Susilo, dan kawan fotografer kita yang kebetulan bertamu dan sumbang saran, mas Iman Baringin. Keputusannya, pemilihan dan PENGUKUHAN TIM FORMATUR untuk PEMBENTUKAN FORUM FOTOGRAFI INDONESIA dianggap penting. Tentu saja dua hari kurang cukup untuk sebuah undangan penting, tapi jika tidak sekarang lalu kapan lagi? Karena sepertinya sangat mungkin pergantian kabinet akan melahirkan kebijaksanaan baru.

Maka Kamis 19 Juni 2014 digelarlah meeting di Galeri Antara kembali. Mungkin perlu diketahui bahwa pertemuan ini adalah pertemuan dengan sedikit paksaan kepada Kemenparekraf, karena pembiayaan tidak cukup jika harus ada biaya sewa ruangan, tapi justru pertemuan kali itulah yang saya kira menjadi puncak kerja selama ini (jadi terimakasih kepada masbro Oscar dan GFJA nya).

Jelas ada yang tidak bisa hadir tapi diskusi tetap berjalan cukup alot malah muncul ide pertemuan saat itu jadinya untuk pemilihan panitia yang akan menunjuk Formatur. Namun akhirnya kita harus berfikir realistis. Kita tetap pada maksud awal untuk memutuskan PENGUKUHAN TIM FORMATUR untuk PEMBENTUKAN FORUM FOTOGRAFI INDONESIA. Tentu dengan beberapa catatan dan dengan harapan mudah-mudahan bisa memuaskan banyak fihak.

KRITERIA ANGGOTA TIM FORMATUR

  • Mewakili masing-masing pemangku kepentingan, Juru Foto, Pendidikan, Industri/Bisnis dan Pemerintah
  • Setiap pemangku kepentingan dapat diwakili oleh 2-3 orang
  • Telah berkecimpungan di bidangnya selama paling tidak 5 tahun
  • Memiliki jaringan yang luas

Akhirnya pertemuan pada hari Kamis 19 Juni 2014, di GFJA, yang dimulai dari jam 4 sore hingga jam 11 malam ini menetapkan dan mengukuhkan TIM FORMATUR untuk PEMBENTUKAN FORUM FOTOGRAFI INDONESIA sbb:

 

TIM FORMATUR untuk PEMBENTUKAN FORUM FOTOGRAFI INDONESIA

TIM FORMATUR untuk PEMBENTUKAN FORUM FOTOGRAFI INDONESIA

  • Oscar Motuloh : Ketua
  • Bambang Wijanarko : Bendahara
  • Lasti Kurnia: Sekretaris
  • Imam Hartoyo : Divisi Persiapan Penyusunan Draft AD/ART
  • Eddy Susilo :Divisi Persiapan Penyusunan Draft AD/ART
  • Andrew Linggar: Divisi Persiapan Acara Kongres
  • Purwo Subagiyo :¬†Divisi Persiapan Acara Kongres
  • Ray Bachtiar D :¬†Divisi Sosialisasi
  • Rakhmat Koesnadi :¬†Divisi Sosialisasi
  • Yase Defirsa Cory :¬†Divisi¬†Sosialisasi
  • Reynold Sumayku: Seleksi Dewan Pembina/Pengurus
  • Edial Roesli: Divisi Riset Daftar calon Dewan Pembina/Pengurus
  • Rully Kesuma : Divisi Riset Daftar calon Dewan Pembina/Pengurus
  • Irma Chantily: Divisi Riset Daftar calon Dewan Pembina/Pengurus
  • Arbain Rambey :¬†Divisi Riset Daftar calon Dewan Pembina/Pengurus

PENGUKUHAN TIM FORMATUR tetap dianggap sah karena sudah dihadiri oleh wakil dari 4 stakeholder

TUGAS TIM FORMATUR:

Membentuk Dewan Pembina dan Pengurus Harian

Membentuk rancangan AD/ART Forum Fotografi

Mempersiapkan Kongres Fotografi untuk Pembentukan Forum Fotografi

PENDANAAN TIM FORMATUR

Program kerja Tim Formatur didukung pendanaannya oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Subdit Pengembangan Fotografi

KRITERIA DAN PEMILIHAN DEWAN PEMBINA

  • Mewakili masing-masing pemangku kepentingan, Juru Foto, Pendidikan, Industri/Bisnis dan Pemerintah
  • Setiap pemangku kepentingan dapat diwakili oleh 2-3 orang
  • Telah berkecimpungan di bidangnya selama paling tidak 5 tahun
  • Memiliki jaringan yang luas
  • Memiliki pengaruh kuat di lingkungannya

struktur DEWAN PEMBINA dan PENGURUS HARIANstruktur DEWAN PEMBINA dan PENGURUS HARIAN

Bahwa idealnya semua pihak dalam dunia fotografi bisa terwakili difasilitasi namun tempat dan dana pastilah terbatas, jadi kongres yang direncanakan ini selain untuk menampung kepentingan dan sebanyak-banyaknya suara fotografer dari berbagai genre, komunitas, asosiasi, atau federasi yang berbeda, juga dimaksudkan untuk menjaring ide-ide untuk program-program yang akan dilaksanakan oleh Kemetrian Parekraf khususnya bidang fotografi yang saat ini sedang melaporkan sepak terjang kita-kita ini kehadapan ibu Menteri. Mudah-mudahan segala apa yang direncanakan bisa terealisasi dengan baik. Dan kepada siapapun yang ingin ikut berdiskusi secara online, silakan klik Face Book Page Forum Fotografi Indonesia.

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

One response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *