Perginya sang editor foto National Geographic Indonesia

reynold-sumayku

Selasa, 28 Oktober 2014 siang email masuk ke ponsel pintar saya. Judulnya “FYI: Pamit dan Sampai Jumpa” dari seorang kolega kantor dahulu di National Geographic Indonesia om Reynold Sumayku.

Reynold, yang biasa dipanggil penyok oleh teman-teman dekatnya menjabat sebagai editor foto di majalah yang sangat ternama di Indonesia dan tentunya dunia, National Geographic Indonesia. Penyok memutuskan untuk pensiun dini di posisi paling hot dan dicari fotografer di Indonesia.

Ya benar, lowongan pekerjaan fotografer majalah National Geographic Indonesia memang benar-benar pertanyaan yang selalu dicari ke redaksi maupun lewat saya pribadi sewaktu masih bekerja di majalah tersebut. Dan kini beliau benar-benar telah pergi dari tempat nyamannya.

Pengumuman resmi Rsumayku via Twitter

Pengumuman resmi Rsumayku via Twitter

Perihal kepergian Reynold ini meskipun agak mendadak namun saya pernah dikabari sebelumnya via WA. Saya diberitahu beliau bahwa dia berencana mengajukan surat pengunduran diri dan meminta saya untuk merahasiakannya hingga terbitnya surat perpisahan tadi. Ketika email itu tiba, saya hanya bisa berdoa semoga kepergiannya memilih pekerjaan yang baru bisa membuatnya lebih bebas dan maksimal berkarya.

Reynold dan kesempurnaan fotografi

Di majalah National Geographic Indonesia, ada 3 orang yang sangat berjasa memberikan banyak ilmu “fotografi ala Natgeo” untuk saya. Ada Mas Tantyo Bangun yang akrab disapa TB, lalu ada Om Feri Latief, dan yang terakhir adalah Reynold Sumayku. Saya merasa cukup beruntung sekali mendapat mentor dari mereka semua.

Rsumayku-galery

Galeri Foto Cerita http://stories.reynoldsumayku.com

Khusus Reynold, karena masih aktif menjabat sebagai editor foto tentunya cukup memudahkan bagi saya untuk belajar kapan saja saya mau. Cukup naik tiga lantai ke atas sampailah saya di ruang redaksi. Dan saya pun bisa berdiskusi langsung dengannya. Umumnya saya tidak belajar secara teknis, namun lebih ke diskusi tematis karya foto dari seorang fotografer hingga problematikanya mulai dari yang ringan sampai yang berat.

Ketertarikan kami sama, di area dokumenter dan jurnalistik. Kesamaan minat ini tentunya memudahkan kami terutama ketika berdiskusi soal foto. Secara tidak langsung, style dan visi beliau dalam fotografi menurun ke saya dan itulah proses belajar tidak langsung yang menahun saya dapatkan setiap berdiskusi dengannya.

Buat saya, pribadi reynold sangatlah sederhana dan jujur. Saya masih ingat akan penolakan dia menerima bayaran jasa menjadi pembicara fotografi di bilangan senayan dan meminta saya menyampaikan feenya untuk disampaikan ke sekretaris redaksi untuk dikonversikan ke langganan majalah dan dikembalikan ke pemilik acara.

Secara penampilan reynold juga apa adanya. Paling suka kombinasi celana panjang outdoor dan kemeja non formal dan bahkan terkadang hanya mengenakan kaos. Untuk gadget pun reynold tidaklah terlihat menonjol. Gempuran aplikasi foto yang kuat ala instagram membuatnya luluh dan beradaptasi dengan ponsel pintar terbaru agar bisa beradaptasi dengan aplikasi tersebut dan juga bisa berkicau di twitter.

Reynold-Sumayku

Reynold In Action/Purwo Subagiyo

Itulah kesederhanaan ala reynold. Belum lagi soal perangkat memotret. Banyak pihak dan teman2 diluar majalah selalu menanyakan apa saja peralatan memotret yang dipakai fotografer di NGI. Sepertinya mahal dan lengkap? Ternyata tidak juga. Yang saya tahu om rey memiliki kamera pribadi Nikon D70 dan sepasang lensa lebar.

Kalau di kantor dia cukup beradaptasi dengan Canon 5D dengan lensa 16-35nya. Kalau kebetulan ada penugasan outdoor yang membutuhkan lensa panjang, reynold terkadang meminjam ke redaksi majalah lain yang kebetulan satu atap seperti majalah otomotif, soccer, atau yang lain.

Dari sini saya jadi tahu alasan kenapa fotografer NGI selalu menutup logo kameranya dengan plester hitam agar tidak ketahuan apa kamera yang dipakai dan tipenya. Reynold yang sebelum bergabung di NGI sebelumnya akrab dengan dunia olah raga khususnya sepak bola karena lama mejadi fotografer Tabloid Soccer. Benang merah dokumenter dan jurnalistik yang ada bisa menjadi kuat karena reynold juga anak Mapala UI, ini memudahkannya apalagi mas TB juga sama-sama dari alumni yang sama.

Dari semua tampilannya itu, saya belajar banyak arti kesempurnaan dalam fotografi. Buatnya fotografi itu haruslah bisa tampil dengan baik, meskipun mungkin kita akan sulit dalam mencapai kesempurnaan tapi kita bisa mencapainya melalui kesederhanaan dalam memotret. Bahwa apa yang kita potret merupakan cerminan apa yang kita pikirkan dan merupakan hasil visualisasi panjang kita memahami foto yang tidak hanya indah, tapi penuh makna.

Reynold dan mimpinya.

Lalu kemana reynold setelah lepas dari NGI. Melalui WA yang saya tanyakan dia membalas akan menempuh jalur sebagai fotografer lepas. Kerjain apa aja deh asal halal, lanjutnya sembari bercanda mungkin. Posisi lowong editor foto dia belum bisa menjawab, mungkin sedang dalam proses pencarian. Hal ini diamini oleh Yudi yang jadi stafnya di NGT.

Mengenai mimpinya yang mungkin belum kesampaian, yang saya tahu, dia ingin sekali membuat buku dan juga pameran foto tunggal. Saya rasa, project inilah yang mungkin akan mewarnai perjalanannya kedepan sembari memotret secara lepas.

Mengenai memori bersamanya yang sangat berkesan, saya bersama dia terlibat aktif dan cukup intens sekali menggawangi lomba dan pameran fotokita award 2011. Kami bersama-sama waku itu merumuskan skema lomba dari konsep hingga pameran bersama juga dengan editor saya om firman firdaus.

Rsumayku-NGI

Diskusi FKAward/Purwo Subagiyo

Rsumayku-NGI2

Reynold Sumayku bersama Oscar Motulloh dan Yudhi Soerjoatmodjo. Photo: Purwo Subagiyo

Langkah bersejarah kami ketika itu adalah bisa mengajak mas Yudhi Soerjoatmodjo yang waktu itu sudah gantung kamera lebih dari 8 tahun. Lewat acara #FKaward2011 saya bisa meyakinkan beliau untuk ikut bergabung menjadi tim juri bersama dengan kang Ray Bachtiar, bang Oscar Motuloh dari GFJA, dan editor in chief kami om Didi Kasim.

Yudhi-soerjoatmodjo

Mas Yudhi didampingi Reynold Sumayku dalam Frame FKaward 2011

Lewat pertemuan di bulan desember 2010, Mas Yudhi akhirnya turun gunung juga. Om rey mempresentasikan konsep FKaward dan Alhamdulillah bisa diterima dengan baik oleh beliau. Inilah momen penting bagi kami, khususnya buat fotografi di Indonesia. Karena setelah itu, Frame atau Fotokita Sharing Moment digagas bulan Januari 2011 sebagai pembuka FKaward dan kembalinya mas Yudhi di dunia fotografi Indonesia untuk berbagi soal foto cerita dan bagaimana berkontribusi untuk FKaward.

Semoga saja, dengan pilihannya ini bisa membuatnya lebih lepas untuk merealisasikan mimpinya yang belum terwujud. Saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih atas semua pelajaran yang telah dibagikan khususnya soal fotografi. Terima kasih banyak, semoga kita bisa bersinergi banyak kedepannya. Amin

Catatan:
Kami bertemu kembali dalam sebuah tim formatur Forum Fotografi Indonesia yang baru saja melahirkan Masyarakat Fotografi Indonesia.

Reynold Sumayku bisa dihubungi via:
reynold.sumayku at gmail.com
www.reynoldsumayku.com
@rsumayku

Untuk kontak email redaksi di editor@nationalgeographic.co.id (NGI) dan traveler@nationalgeographic.co.id (NGT)

Salam
Purwo Subagiyo
@purwoshop

 

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *