Belajar Hidup oleh Samuel Mulia

samuel-mulia

Ada empat puluh lima daftar pelajaran hidup yang dikirimkan seorang teman sebagai ’makanan rohani’ di suatu pagi. Daftar panjang itu ditulis oleh seorang wanita berusia sembilan puluh tahun.

Mata pelajaran
Dari empat puluh lima daftar yang mirip daftar mata pelajaran itu, saya tertarik karena apa yang ditulisnya sesungguhnya jauh lebih manusiawi dari khotbah yang saya dengar baik di dalam rumah ibadah, atau yang keluar dari mulut seseorang atau beberapa orang yang sesungguhnya tahu bahwa mereka tak akan mampu melakukan semua yang dikhotbahkannya itu.

Seperti pada umumnya, mereka yang berkhotbah, atau pemberi petuah atau nasihat, sangat mudah untuk mengutarakan atau menyarankan sebuah solusi, ketika mereka tidak atau belum pernah mengalami sebuah peristiwa yang menyesakkan dada.

Kalaupun sudah mengalami peristiwa yang sama, tetapi yang menghadapinya bukanlah manusia yang sama. Sehingga beberapa kali saya berpikir, bahwa sesungguhnya nasihat yang manusiawi itu, adalah yang kita dapati pada waktu yang bersamaan ketika kejadian menyesakkan dada terjadi.

Daftar panjang itu buat saya tidak dibuat untuk ditiru oleh yang membacanya. Ia menyadari bahwa yang ditulisnya itu sebuah kesimpulan dari sejuta peristiwa yang melintasi perjalanan hidupnya yang panjang itu. Saya dan Anda bisa saja tidak menyetujui, tetapi bisa jadi kita menyetujui.

Dengan demikian, selesai membaca daftar pelajaran hidup itu saya tak merasa seperti baru menyelesaikan kuliah dengan pengajarnya yang sungguh membosankan, saya tak merasa bahwa sejuta telunjuk menuding kalau saya ini keliru dalam mengambil keputusan.

Bahkan perasaan yang paling saya sukai setelah membaca, adalah perasaan kesetrum untuk mengembalikan ingatan saya, kalau saya ini manusia tanpa embel-embel, kalau saya ini tak pernah bersalah kalau melihat hidup itu dari sudut pandang saya.

Saya tak akan menulis keempat puluh lima butir pelajaran hidup itu karena tak ada tempat untuk menuliskan semuanya. Pelajaran hidup yang ditulis di nomor urut pertama adalah, life isn’t fair, but it’s still good. Setiap kali saya bercerita bahwa hidup ini tidak adil, hanya segelintir manusia yang menyetujui, lebih tepatnya yang berani mengatakan itu.

Karena pernah sekali waktu saya mengungkapkan kalimat ini, beberapa teman saya mengkhotbahi saya seperti tak ada hari esok, dan di akhir percakapan salah seorang wanita menyimpulkan bahwa saya adalah manusia yang sama sekali tidak bersyukur.

Hadiah
Kesimpulannya itu telah membuat saya ingin berdebat dengannya, karena sesungguhnya saya tak seratus persen menyetujui apa yang dikatakannya itu. Maka butir keenam dari daftar perjalanan hidup wanita berusia lanjut itu membangunkan saya. You don’t have to win every argument. Stay true to yourself.

Orang lain bisa saja menguliahi saya ini dan itu, yang kadang melahirkan ketidaksetujuan dan bisa jadi melahirkan argumentasi yang tak akan ada ujungnya. Tetapi saya seharusnya bukan tahu kapan harus berhenti berargumentasi, tetapi saya seharusnya tahu untuk selalu menjadi jujur terhadap diri saya sendiri.

Dari mana saya mengetahui kapan momen yang tepat kalau saya ini harus jujur terhadap diri sendiri? Ketika argumentasi itu telah membuat saya menjadi naik pitam dan mulai menggunakan kata-kata kasar dalam debat yang mungkin tak akan ada akhirnya.

Naik pitam dan kata-kata kasar yang terjadi dalam perdebatan itu, bisa jadi karena seseorang yang berargumentasi dengan saya, telah mampu mengulik bahwa saya ini tidak stay true to myself.

Mekanisme pembelaan diri dalam bentuk debat yang tak berujung dan menggunakan kata-kata kasar, itu bukan bentuk atau gambaran sebuah kejujuran. Orang itu kalau jujur, tak akan melahirkan debat kusir, karena kejujuran itu melahirkan kebahagiaan, bukan melahirkan self defense mechanism dalam bentuk apa pun.

Maka di butir ke dua puluh lima dari daftar panjang pembelajaran hidup, wanita tua itu menulis No one is in charge of your happiness but you. Sebetulnya sudah banyak kali saya mendengar dan sejujurnya mengetahui bahwa saya ini bisa menjadi agen kebahagiaan untuk diri saya sendiri.

Tetapi untuk bisa menjadi agen, saya harus punya modal terlebih dahulu. Dan modal itu tertulis pada butir sebelas. Make peace with your past so it won’t screw up the present. Sampai hari ini saya masih belum sukses memaafkan masa lalu saya. Itu mengapa I screw up the present.

Saya masih dalam taraf bergumul untuk menyembuhkan luka batin saya di masa yang sudah lalu. Luka yang ditimbulkan dari ketidakmampuan saya menghadapi musuh yang terlalu kuat untuk dilawan.

Saya sedang berusaha melalui berbagai cara untuk mendamaikan meski sekarang ini masih belum terlihat hasilnya. Mungkin saya harus belajar melihat hidup itu seperti yang tertulis dalam butir terakhir dalam daftar pelajaran hidup wanita lanjut usia ini. Life isn’t tied with a bow, but it’s still a gift.

Sumber: Harian KOMPAS, Minggu 16-11-2014

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Widgets powered by AB-WebLog.com.