”Unpublished”, Menerbitkan yang (Pernah) Tidak Terbit

Buku Unpublished Kompas/Yuniadhi

SEBUAH buku foto baru saja diluncurkan Penerbit Buku Kompas. Berbeda dengan buku foto Mata Hati (2005) yang juga memuat foto karya wartawan tulis, buku berjudul Unpublished ini hanya berisi karya wartawan Kompas yang memang fotografer saja. Dikuratori Jay Subyakto dan John Suryaatmadja, semua foto di dalam buku tersebut adalah foto-foto yang belum pernah dimuat di harian Kompas.

Sebuah pertanyaan memang layak mengemuka: kalau tidak pernah dimuat di Kompas, bagaimana mutu foto-foto itu? Memang, banyak orang menganggap bahwa foto yang tidak diterbitkan pada sebuah surat kabar adalah foto kelas dua alias foto yang ”tidak laku”. Anggapan ini terjadi karena ada analogi umum tentang ”terpilih” atau ”tidak terpilih” seperti yang terjadi pada perjodohan atau bahkan pilkada.

Kita tidak bisa menyalahkan logika umum karena orang umum adalah mayoritas dari kita bukan? Namun, ada baiknya logika umum itu dibongkar demi pemahaman umum yang lebih baik. Pihak-pihak yang tahu bahwa foto yang tidak termuat bukanlah foto ”buangan” harus angkat bicara. Itulah gunanya buku Unpublished ini diterbitkan dengan prakarsa fotografer-fotografer muda Kompas yang gerah dengan ”tuduhan-tuduhan” pada foto yang tidak terbit tersebut.

KeamananDi harian Kompas, foto yang tidak termuat masuk dalam beberapa kategori. Kategori pertama adalah masalah ”keamanan”. Kita tentu semua tahu bahwa pada era Orde Baru, Presiden Soeharto demikian kuatnya sehingga foto yang kira-kira bisa membuatnya tidak senang tentu tidak akan dimuat.

Pada tahun 1978, Sindhunata, yang kini berprofesi sebagai rohaniwan Katolik di Yogyakarta, datang ke Pulau Buru tempat pengasingan tahanan politik Gerakan 30 September. Di sana, Sindhunata mewawancarai dan memotret sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya terpotret sedang mengetik dan di latar belakangnya ada sebuah corat-coret gambar mata angin. Itu foto yang sangat kuat karena memberikan realitas Pulau Buru dengan lugas dan jelas. Selain itu, siapa pun yang pernah membaca buku karya Pramoedya berjudul Arus Balik tahu bahwa saat dipotret Pram sedang menulis buku itu. Gambar mata angin di belakang Pram adalah salah satu logikanya.

Namun, foto luar biasa itu jelas tidak mungkin dimuat di halaman Kompas. Mana mungkin Kompas berani menantang Soeharto dengan memuat wajah Pramoedya yang tahanan politik kasus PKI? Pada tahun 1996 pun, foto Pram masih ”haram” untuk dimuat di Kompas, padahal saat itu Pram sudah berada di Jakarta.

Setelah Soeharto lengser, foto Pramoedya Ananta Toer dari tahun 1978 itu akhirnya menghiasi buku foto The Best of Kompas Matahati yang terbit pada tahun 2007. Di dalam buku itu pula beberapa foto yang belum pernah termuat di Kompas dengan alasan ”keamanan” juga ikut termuat seperti foto Soeharto mengusap air matanya saat Ibu Tien meninggal pada tahun 1996. Waktu itu, menjelang pemakaman Ibu Tien, fotografer Julian Sihombing ditugaskan ke Solo, Jawa Tengah. Julian menelepon, mengatakan dia dapat foto bagus dan langka, tapi yakin Kompas tidak akan memuatnya. Foto yang dimaksud Julian adalah foto Pak Harto menangis tadi. Saat pemotretan pun Julian sudah merasa bahwa banyak mata memelototi dirinya.

KepantasanAlasan lain, selain alasan keamanan, tidak dimuatnya sebuah foto juga bisa datang dari berbagai alasan yang mungkin janggal di mata awam, antara lain soal kepantasan. Foto yang bisa memancing kerusuhan lain jelas tidak akan dimuat. Pada tahun 1997, terjadi kerusuhan di Rengas Dengklok, Jawa Barat. Beberapa bangunan ibadah dirusak massa. Kompas memiliki foto semua sisi kerusuhan tersebut, tetapi foto rumah ibadah rusak adalah sesuatu yang tidak akan dimuat. Kalau foto itu dimuat, bisa memancing kerusuhan bermotif keagamaan baru di tempat lain.

Alasan kepantasan lain adalah soal kekejaman dan gambar darah. Saat terjadi kerusuhan Mei 1998, sebuah foto dimuat hitam putih demi menyamarkan warna darah yang mendominasi foto tersebut. Foto-foto kerusuhan Sampit di Kalimantan juga tidak dimuat satu pun, dengan alasan kepantasan.

”Manis”Nah, masih ada satu alasan tidak termuatnya sebuah foto. Dan, foto-foto kategori yang ini umumnya kategori ”manis”. Setiap memotret seorang artis, seorang fotografer tentu memotret sampai beberapa puluh macam gaya dan busana. Karena umumnya cuma terpakai maksimal lima frame dalam satu pemuatan, jelas sisanya akan masuk dalam kategori foto tidak termuat. Tersisihnya sang foto belum tentu karena lebih buruk, tapi lebih karena memang harus dipilih sedikit, misalnya karena alasan layout. Yang dibutuhkan foto horizontal, maka foto vertikal akan tersisih walau mungkin secara rasa lebih menyenangkan untuk dilihat.

Mirip dengan foto artis, foto-foto tempat indah atau peristiwa-peristiwa kategori fitur juga mengalami hal mirip. Pemotretan menghasilkan belasan varian, tetapi yang akan dipakai terpaksa memang hanya sedikit.

TempatPertimbangan yang juga tidak bisa diabaikan dalam tidak dimuatnya sebuah foto adalah masalah tempat. Halaman Kompas sangat terbatas, tidak mungkin berita bisa termuat dengan fotonya. Beberapa berita akan tercetak hanya beritanya. Dalam satu hari, bisa jadi ada beberapa liputan dalam bentuk tulisan dan foto. Namun karena halaman terbatas, hanya satu atau dua berita yang akan disertai foto. Sisanya belum tentu termuat juga di hari lain karena foto bagus pun datang setiap hari.

Buku Unpublished ini semoga bisa memberikan pemahaman baru dalam foto jurnalistik kepada umum sekaligus merangkum sebuah sejarah visual yang belum mengemuka. Sebuah foto bagaimanapun adalah saksi mata dari seorang fotografer yang pasti bisa memberi kontribusi pada hal-hal yang sudah ada agar lebih lengkap.

Sumber: Tips dan Catatan Arbain Rambey

foto buku: Yuniadhi Agung

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Widgets powered by AB-WebLog.com.