Tips membuat photo story

Tari-Caci-1

Ada istilah yang mengatakan bahwa sebuah foto bisa bercerita lebih dari 1000 kata. Namun terkadang, untuk mengabadikan dan menceritakan sebuah kisah dibutuhkan lebih dari sebuah foto. Untuk itulah foto cerita hadir. Melihat, menganalisa, merekam, dan menyajikan sebuah peristiwa dalam rangkaian beberapa foto yang berkisah sangat penting agar pembaca bisa memahami dan merasakan cerita yang kita sampaikan melalui foto tersebut.

Tari-Caci-2

Mendiskusikan bagaimana cara membuat foto cerita yang baik, saya merasa sangat beruntung bisa belajar banyak tentang ini ketika masih bergabung di Majalah National Geographic Indonesia dari mentor foto saya yang juga masih menjabat sebagai editor foto, Reynold Sumayku.

Menurutnya, untuk membuat foto cerita sederhana, terkadang dirinya sering membayangkan komik singkat yang dimuat di halaman-halaman surat kabar atau majalah. Tentunya, akan lebih mudah memahami rangkaian foto yang menjadi sebuah cerita apabila menggunakan pendekatan tersebut.

Pendekatan dalam foto cerita.

Β Lalu, bagaimana membuat sebuah foto cerita yang baik? Terkadang, mendiskusikan istilah foto cerita saja kita akan menemukan istilah lainnya yang malah membuat semakin bingung, ada foto cerita dan ada pula foto essay.

Tari-Caci-9

Jika foto cerita cenderung mengenai suatu tempat, orang atau situasi. Sedangkan foto essay cenderung mengenai suatu tipe atau aspek dari banyak tempat, banyak hal, atau orang. Kedua istilah tersebut membutuhkan hal yang sama: alur yang menyatukan.

Pada akhirnya, baik picture/photo story atau photo essay sama-sama menceritakan sebuah kisah.” Demikian kutipan dari Michael Davis yang juga merupakan mantan picture editor di National Geographic.

Foto cerita sendiri merupakan rangkaian beberapa foto yang bercerita tentang orang, tempat, atau keadaan. Foto cerita bisa dilakukan dalam jangka waktu singkat, sedang, atau panjang. Pendekatan dalam foto cerita bisa didasarkan kepada dokumentasi foto yang bersifat narasi, dimana pendekatan ini paling sering digunakan oleh fotografer dengan mendokumentasikan momen secara runut sebuah peristiwa.

Tari-Caci-7

Dengan urutan peristiwa, semua direkam secara runut dengan ukuran waktu sebagai penanda. Misalnya foto cerita tentang perayaan upacara adat yang dilaksanakan dari pagi hingga malam. Teknik lainnya dalam pendekatan foto cerita adalah dengan menentukan tema yang akan dipilih sebagai kekuatan penyampaian cerita. Pendekatan tema cerita bisa diambil dari penokohan, tempat, atau bahkan kuatnya cerita itu sendiri.

Umumnya, cerita memang menjadi dominan, namun untuk mempermudah, menjadikan salah satu tokoh sebagai pusat cerita diambil agar pembaca bisa memahami

Berikut ini beberapa tahapan dalam membuat foto cerita yang baik:

  1. Temukan ketertarikan akan sebuah cerita.

Tahapan ini menjadi langkah awal dan sangat penting dalam menentukan foto cerita yang akan dibuat. Kata kunci ketertarikan menjadi penting karena kita akan menyampaikan cerita melalui foto dengan fokus dan menarik.

Tari-Caci-6

Tidak terbayang apabila kita tidak menyukai cerita yang akan kita sampaikan maka tentunya hasilnya juga tidak akan maksimal. Menemukan foto cerita yang disukai bisa dilakukan dengan banyak membaca dan mencari referensi dari berbagai sumber.

  1. Riset foto

    Setelah menemukan cerita yang akan didokumentasikan. Langkah selanjutnya adalah dengan melakukan riset foto. Riset foto dilakukan dengan banyak membaca sumber yang akan digali. Bisa melalui diskusi atau bertanya dengan sumber yang terpercaya ataupun menjelajah data di internet.

    Tari-Caci-10

    Semua informasi 5W + 1 H dikumpulkan agar kita bisa memiliki data yang lengkap dan akurat sehingga akan memudahkan ketika tiba di lapangan. Semua dikumpulkan dalam satu informasi yang mudah diakses terutama ketika dibutuhkan untuk konfirmasi.

  1. Peralatan memotret

    Dengan mendapatkan informasi yang lengkap mengenai obyek foto cerita melalui riset foto kita akan dengan mudah menentukan peralatan yang akan kita bawa.Usahakan membawa peralatan memotret dengan ringkas agar memudahkan pemotretan. Jika punya budget berlebih bisa menggunakan 2 kamera.

    Satu untuk lensa lebar dan satu lensa tele. Untuk keperluan secara umum, penggunaan wide angle zoom seperti 16-35mm f:2,8 sangat dianjurkan.Jangan lupa untuk memperhatikan etika dalam penggunaan flash, dibeberapa momen penggunaan flash dirasa cukup mengganggu. Ada baiknya pemotretan dilakukan sesuai dengan aturan dan tidak melanggar etika.

  1. Elemen foto cerita
  1. Foto pembuka:

    Tari-Caci-5
    Foto pembuka dalam foto cerita sangat penting sekali sebagai sebuah foto yang tampil pertama. Foto harus sangat kuat, menarik secara visual dan menimbulkan rasa penasaran yang kuat. Pilihlah foto terbaik yang menarik dan layak menjadi foto pembuka menurut Anda

  2. Rekamlah semua aksi dan interaksi.

Rekamlah seluruh kegiatan yang menunjukan interaksi antara obyek dengan lingkungannya. Pastikan selalu waspada dan jangan melewatkan momen yang mungkin hadir dengan cepat. Gunakan mode continuous shot untuk merekam aksi dengan cepat.

Tari-Caci-8
Langkah ini perlu diambil agar kita memiliki banyak variasi adegan dan juga angle foto. Tidak sekedar foto yang disetting dengan obyek yang menghadap kamera namun juga bertujuan mendapatkan foto yang natural dan memiliki makna dan pesan yang kuat.

3. Perhatikan detail

Tari-Caci-3

Dalam setiap cerita, kita pasti bisa menemukan bagian-bagian yang menarik dan terkadang terlewatkan begitu saja. Sebagai seorang pencerita foto yang baik kita harus jeli melihat unsur-unsur yang berbeda tersebut.

Jikalau menarik, jangan lupa untuk mendokumentasikannya secara detail. Buatlah foto dengan pendekatan makro atau dengan menggunakan lensa zoom agar bisa lebih dekat dengan detail obyek foto yang menarik.

4. Buatlah foto potret

Tari-Caci-4

Foto potret sangat penting untuk menggambarkan subyek cerita. Dengan membuat foto potret, pembaca akan merasakan fokus dari cerita yang akan kita sampaikan. Subyek cerita yang ada disekitar lingkungannya akan membuat foto cerita lebih berkarakter.

5. Foto penutup

Tari-Caci-11

Ada foto pembuka, pastilah ada foto penutup. Foto penutup biasanya membentuk kesimpulan. Sebagai sebuah elemen akhir, foto penutup juga harus kuat secara visual dan cerita. Disinilah ditentukan imaginasi seorang fotografer untuk memilih foto yang kuat agar pembaca bisa mendapatkan akhir dari sebuah cerita yang ingin disampaikan sang fotografer.

Kesimpulan:

Layaknya membangun sebuah rumah yang baik dan kuat, diperlukan sebuah perencanaan matang. Fotografer sebagai seorang β€œarsitek” foto cerita perlu merencanakan, mengumpulkan, dan memadukan unsur-unsur penting dalam foto agar bisa saling melengkapi dan berkisah dengan baik dan menarik.

Rangkaian komposisi foto yang bercerita menjadi inti dari pembuatan foto cerita itu sendiri. Kisah yang akan Anda sampaikan sepenuhnya ada dalam imajinasi dan konsep Anda. Hasilnya berupa visualisasi karya dalam bentuk cerita dan pesan yang sampai ke pembaca. Foto yang baik akan terlihat indah, foto yang hebat akan menceritakan sesuatu.

Tentang TARI CACI

Permainan Caci, berawal dari pesta kebun. Awalnya diperoleh dari sebuah mimpi. Melalui bahasa roh, yang merupakan bahasa nenek moyang. dan tidak bisa diterjemahkan dengan bahasa yang sekarang. Dimainkan sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan menggunakan cambuk dan perisai.

Permainan Caci memiliki memiliki 3 nilai dasar yaitu memuji, menghormati, dan bersyukur kepada pencipta dan leluhur. Untuk melihat atraksi ini bisa mengunjungi Kelompok Sanggar Budaya Riang Tanah Tiwa di Kampung Cecer, Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur.

NB:
Artikel ini dimuat juga di majalah Chip Foto Video Digital, bisa diunduh via:

Semua foto diatas oleh @purwoshop

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

5 responses

  1. Terimakasih sudah berbagi tips membuat foto cerita (photo story),
    dari awal saya masih sulit mendefinisikan secara tepat antara esai foto (photo essay) dengan photo story tersebut, bahkan ada istilah lainnya yaitu seri foto (photo series).

    Dari uraian diatas bahwa yang menyatukannya yaitu dari sisi alur ya, pertanyaan saya :
    1. bisa bantu jelaskan definisi 3 tipe foto diatas secara baik ya
    2. apa ada pembeda yang bisa membantu kita membedakannya
    3. apa ada contohnya?

    terima kasih πŸ™‚

    • Halo Percha,

      Terima kasih sudah berkunjung πŸ™‚

      Menjawab 3 pertanyaan Anda mungkin bisa berkunjung ke link berikut.

      http://www.purwoshop.com/2011/05/16/cara-membuat-photo-story/

      Disitu ada penjelasan beserta contoh dari editor foto saya dahulu. Semoga sedikit memberi pencerahan ya.

      Untuk mudahnya, saya melihat foto cerita lebih kepada medium atau cara mendokumentasikan realitas peristiwa. Sedangkan Esai foto lebih dalam dari foto cerita, kita sebagai fotografer meletakan sudut pandang dan beropini atas fakta dan peristiwa yang akan direkam secara bersamaan. Semoga link di atas tadi bisa memberikan jawaban ya πŸ™‚

      Salam
      @purwoshop

  2. Terimakasih mas purwo sudah sharing untuk membuat photo story ini. Mantab!
    suka sekali dengan artikel ini. Terus belajar hal baru baik dari sisi menulis maupun mendokumentasikan sesuatu dalam gambar πŸ™‚

  3. Thanks mas Purwo!

    Sejauh ini memotret hanya sebagai penunjang tulisan, rasanya harus mencoba untuk membuat photo story yang bisa bercerita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *